Maret satu hari terakhir, 2007 — 23:37
Aku tak pernah menyukai hujan—kataku padamu di suatu malam.
Hari itu hujan dan tak ada satupun bintang di langit.
Rona wajahmu langsung berubah.
Mengapa? Tanyamu heran.
Bukankah hujan itu romantis? Kau menambahkan.
Ya, sayang, aku tahu persis.
Hujan adalah suatu keadaan yang teramat kau nikmati.
Tapi hujan tak pernah membuatku nyaman.
Hujan membuat pakaianku basah dan malamnya aku masuk angin, kilahku.
Matamu menyiratkan keragu-raguan.
Well, oke, hujan tidak pernah datang di saat yang tepat untukku, sayang.
Kali ini jawabanku lebih berbobot—namun tetap saja, sorot itu muncul di matamu.
Hujan itu identik dengan airmata, tambahku pendek. Pelan.
Kau diam.
Aku tidak pernah menikmati hujan—ulangku kemudian di suatu siang.
Saat itu hujan dan kita sedang berpayungan—oke, tepatnya aku. Kau santai saja berjalan di bawah hujan.
Tapi kan, berpayung berdua seperti ini adalah hal yang romantis... bisikmu,
Dan ini hanya bisa dilakukan di kala hujan.
Kau tersenyum puas.
Tetap saja, tidak cukup alasan untuk membuatku senang berlama-lama dalam hujan.
Coba, sayang, nikmati rintiknya. Perlahan kau ambil tanganku dan kau tengadahkan.
Basah. Dingin. Bukan ini yang kuinginkan.
Sayang, sudahlah, aku tidak pernah suka hujan! Bentakku menarik tangan.
Satu-satunya hujan yang melegakanku adalah hujan yang dengan segera berketeduhan.
Jadi, ayo kita pulang!
Kau menarik napas panjang.
Sayang... tidak akan berhasil...
Kau tak akan pernah bisa membuatku menyukai hujan...
Hujan adalah sesuatu yang biasa saja bagiku.
Bahkan baunya asing, dan tak kunikmati bau seperti itu.
Tapi ini kan bau embun, sayang... bau tanah basah.. bau rumput... kau mencoba meyakinkanku,
Bau ini begitu familliar... cobalah, resapi harumnya. Kau pasti suka, bujukmu.
Kupejamkan mata dan mulai menghirup udara sekitar.
Tidak. Baunya amis, ucapku kemudian.
Kau kembali menggeleng dalam diam.
Sayang, mengapa?
Mengapa kau tak pernah suka hujan?
Suatu pagi kau menanyakan itu kepadaku.
Di luar gerimis, dan kita berencana pergi setelah reda.
Sayang... jawaban jujur, please... pintamu.
Hmfffhh.............
Aku masih belum menemukan kata yang tepat untuk itu, sayang. Maaf ya?
Jawabanku mengecewakan.
Di suatu senja dengan langit yang merekah, kita berjalan menyusuri kota.
Sayang, lihat, langit begitu indah! Gradasi dari kuning-oranye menuju merah-violet! Aku terkagum-kagum.
Kau hanya berdehem, menoleh sebentar, kemudian menunduk.
Memikirkan apa, sayang? Usikku.
Seandainya... kau bisa menyukai hujan seperti kau menyukai langit... kau bergumam.
Oh, sayang... aku menikmati langit karena perpaduan warnanya begitu indah...
Ada warna-warna cantik di sana, bayangkan, di langit! Bodoh kalau aku sampai tak suka.
Sedang hujan?
Bunyi petir?
Cahaya kilat?
Suaranya ketika menampar tanah?
Bahkan suara gerimis yang miris?
Semuanya menakutkan!
Semua identik dengan kesedihan. Kemarahan. Ketergesaan.
Dan itu membuatku ketakutan! Aku benci hujan!!! Teriakku garang.
Kau terhenyak.
Sayang, maafkan... aku tak pernah tau kalau kau takut hujan.
Sayang... aku tidak takut pada hujannya... aku takut pada perasaan yang timbul di kala hujan!
Perasaan yang menghantuiku saat aku mendengar petir menyambar marah dan rintihan gerimis menangis...
Aku tak pernah bisa menikmatinya... tak pernah bisa... aku mulai terisak.
Ssshh...... sudah, sayang... aku mengerti. Maafkan aku. Kau memelukku.
Dalam hati, di sela-sela isak yang mulai mereda, kubisikkan perlahan alasanku membenci hujan.
Bukankah sudah kukatakan sejak awal, bahwa hujan identik dengan airmata?
Untungnya hujan kali ini bisa segera berketeduhan.
Terimakasih, Tuhan...