Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

imajiner's Site


Photo AlbumRoad Trip Singapore-Malay 2007Mar 13, '08 8:35 AM
for everyone
it's such a nice-interesting journey...

Photo AlbumAug 12, '07 1:04 PM
for everyone

Blog EntryAug 12, '07 12:46 PM
for everyone

Sebelum saya berbicara mengenai wanita perkasa sempurna yang saya kenal, alangkah indah jika kita sama-sama berkaca diri lebih dahulu. Saya wanita. Anda wanita. Tentulah kita harusnya sudah saling memahami sebelum saya memaparkan banyak hal tentang wanita. Tentulah sudah seharusnya tidak perlu media semacam tulisan, forum diskusi, atau bahkan rangkaian kata-kata untuk kita bisa saling tahu apa yang wanita, seperti kita, inginkan dalam hidup ini. Tentulah kita harusnya mampu mengira-ngira perlakuan seperti apa yang diharapkan wanita dari lingkungannya. Tentulah, ah, tentulah tak perlu banyak basa-basi di sini. Harusnya kita hanya saling bertatapan beberapa menit, lalu masing-masing mengangguk tanda mengerti tanpa mulut mengeluarkan suara barang seabjad.

 

                Namun wanita telah jadi perkara sejak jauh-jauh hari. Dari awal mula Hawa tercipta, hingga cerita remaja kota kita masa kini, semua tak mungkin tidak menimbulkan tanda tanya. Sebegitu komplekskah makhluk Allah bernama wanita ini?! Sebegitu sulit dimengertikah?! Hingga banyak tulisan beredar membahas wanita. Forum-forum diskusi merebak mempermasalahkan kedudukan wanita. Kaum-kaum feminis bermunculan menyalahkan perlakuan timpang terhadap wanita. Mulai muncul tokoh-tokoh wanita. Muncul presiden-presiden wanita. Muncul produk-produk yang bagai “menuhankan” wanita. Dari mulai fashion, kosmetik berlabel “for her”, sampai hasil teknologi yang dirancang khusus untuk wanita. Semuanya membuat saya berpikir bahwa saat ini, wanita tak lagi sesederhana ia seharusnya.

 

                Wanita bukan lagi sosok yang terus-menerus berkutat di dapur dengan piring-piring bekas makan dan kompor minyak tanahnya. Wanita hari ini bekerja cerdas di belakang komputer, menuangkan ide-idenya dalam program yang bisa dijalankan tanpa perlu mengotori tangan dengan air cucian piring atau percikan minyak. Wanita tidak lagi menjadi sosok yang hari-harinya dihabiskan dengan menggendong anak, menyanyikan nina bobo sambil menunggu suami pulang. Wanita hari ini justru sangat jarang menyentuh buah hatinya dengan tangannya sendiri, karena seringkali sudah terlalu lelah sepulang dari kantor, dan tertidur tanpa ingat mengecup kening anaknya. Bahkan sekedar sentuhan, sekedar panggilan sayang, sekedar senyuman yang tulus, sekedar pandangan menenangkan atau belaian lembut sang Ibu pada tubuh kecil mereka, bisa dihitung oleh jari di setiap minggunya.

 

Dalam hal ini, saya memilih untuk berkaca pada sosok Ibu saya. Jika saya diberi kesempatan untuk meminta satu hal yang tidak pernah diberikan Ibu kepada saya, maka seumur hidup saya akan saya habiskan untuk mencari jawab atas pertanyaan itu. Apa yang belum Ibu berikan pada saya?! Apa yang tak sempat saya cicipi dari Ibu saya?! Segenap kasihnya, cintanya, rindunya, ceritanya, senandungnya, amarahnya, sindirannya, nasihatnya, peluhnya, tawanya, bahkan airmatanya, semua pernah tercucur untuk saya, ataupun karena saya.  Semua yang ia punya tanpa ragu akan ia beri pada saya jika saya merengek memintanya, atau bahkan terkadang saya tak berani meminta namun Ibu tahu saya begitu menginginkannya. Semua yang berujung pada kebahagiaan saya akan serta-merta ia untaikan dalam bait-bait doa, di setiap sholatnya, sujudnya, dan tangisnya di sepertiga malam. Meski saya acapkali terbangun dan bertanya mengapa Ibu menangis, hanya senyumnya yang saya dapati mengembang sebagai jawaban. Tak pernah Ibu berkata capai, bosan, atau mengeluh sedikit saja dalam hari-harinya. Rasa syukurnya pada Tuhan selalu membuat saya ingin melakukan hal serupa dengan pengorbanannya suatu saat nanti.

 

And above all, Ibu juga wanita. Salah satu tokoh wanita perkasa yang padanya saya dititipkan Tuhan. Pada Ibu saya belajar mengenal Tuhan, dari mulai meraba-raba hingga mampu mencintaiNya. Pada Ibu saya menggantungkan harapan, menitipkan hati saat butuh tempat berteduh dan mengambilnya kembali saat akan pergi jauh. Saya yakin, Anda pun pasti dititipkan pada sosok Ibu yang tak kalah perkasa, bukan?! Dan pada sosok yang sangat perkasa itulah saya titipkan rindu. Rindu yang tak pernah habis  saya eja, saya namai, saya ganti warna, lalu saya ceritakan keindahannya. Rindu yang tak pernah menua. Rindu yang tak ada habisnya, sampai titik jumpa di antara kita. Tak pernah ada yang mampu menamai rindu ini sesempurna Ibu saya menamainya. Saya begitu mencintai Ibu. Wanita perkasa yang sempurna di mata saya. Satu-satunya rumah tempat saya selalu ingin pulang.


Blog EntryAug 12, '07 12:44 PM
for everyone

12 April 2007, 07:07

 

Sayang.

Jika kita bisa dengan mudahnya berbicara lewat hati, pikiran, jiwa, atau nurani,

untuk apa Tuhan menciptakan mulut?!

Hanya untuk makan-kah?

Jika benar begitu, lalu untuk apa Dia bikin kita punya telinga?

Bukankah fungsi satu-satunya telinga adalah mendengarkan?!

 

Jika bicara telah bisa dilakukan tanpa suara, harusnya manusia-manusia yang lahir belakangan ini tak perlu lagi dilengkapi telinga.

 

Sayang.

Bukankah telah kukatakan aku nyaman berbicara denganmu?

Apapun topiknya, kapanpun waktunya, di manapun tempatnya,

aku selalu menanti-nanti dialog yang akan muncul ke permukaan.

Tentang apalagi hari ini,

sore yang hujan-kah?!

rumah masa depan-kah?

Atau, lagi-lagi potongan-potongan kerinduan yang kita kerat dan kunyah bergantian?

 

Jika bicara telah menjadi sesuatu yang tak perlu di muka bumi ini, sayang, kita akan cari planet lain.

 

Terakhir, aku selalu bertanya-tanya.

Apakah benar kita diciptakan untuk saling berbicara dan mendengarkan satu sama lain?!

Karena satu-satunya hal yang teramat kurindui saat ini hanya suaramu.

Suaramu dan segenap celotehannya.

Suaramu yang menyimpan keriangan dan kebahagiaan di dalamnya.

Suaramu dengan semua variasinya, yang rela kudengarkan berjam-jam tanpa henti.

Tanpa jeda, tanpa koma; itu jika kau mampu.

 

Sayang.

Jika bicara telah diciptakan sengaja untuk kita, aku sangat bersyukur karena aku akan selalu punya alasan untuk menghabiskan waktu bersamamu.

Hidupku pun.

Hari-hariku pun.

Keberadaanku pun.

 

 

Sayaaang...

I love you sampai bosan!!!

 


Maret satu hari terakhir, 2007 — 23:37

 

 

Aku tak pernah menyukai hujan—kataku padamu di suatu malam.

Hari itu hujan dan tak ada satupun bintang di langit.

Rona wajahmu langsung berubah.

Mengapa? Tanyamu heran.

Bukankah hujan itu romantis? Kau menambahkan.

Ya, sayang, aku tahu persis.

Hujan adalah suatu keadaan yang teramat kau nikmati.

Tapi hujan tak pernah membuatku nyaman.

Hujan membuat pakaianku basah dan malamnya aku masuk angin, kilahku.

Matamu menyiratkan keragu-raguan.

Well, oke, hujan tidak pernah datang di saat yang tepat untukku, sayang.

Kali ini jawabanku lebih berbobot—namun tetap saja, sorot itu muncul di matamu.

Hujan itu identik dengan airmata, tambahku pendek. Pelan.

Kau diam.

 

Aku tidak pernah menikmati hujan—ulangku kemudian di suatu siang.

Saat itu hujan dan kita sedang berpayungan—oke, tepatnya aku. Kau santai saja berjalan di bawah hujan.

Tapi kan, berpayung berdua seperti ini adalah hal yang romantis... bisikmu,

Dan ini hanya bisa dilakukan di kala hujan.

Kau tersenyum puas.

Tetap saja, tidak cukup alasan untuk membuatku senang berlama-lama dalam hujan.

Coba, sayang, nikmati rintiknya. Perlahan kau ambil tanganku dan kau tengadahkan.

Basah. Dingin. Bukan ini yang kuinginkan.

Sayang, sudahlah, aku tidak pernah suka hujan! Bentakku menarik tangan.

Satu-satunya hujan yang melegakanku adalah hujan yang dengan segera berketeduhan.

Jadi, ayo kita pulang!

Kau menarik napas panjang.

 

Sayang... tidak akan berhasil...

Kau tak akan pernah bisa membuatku menyukai hujan...

Hujan adalah sesuatu yang biasa saja bagiku.

Bahkan baunya asing, dan tak kunikmati bau seperti itu.

Tapi ini kan bau embun, sayang... bau tanah basah.. bau rumput... kau mencoba meyakinkanku,

Bau ini begitu familliar... cobalah, resapi harumnya. Kau pasti suka, bujukmu.

Kupejamkan mata dan mulai menghirup udara sekitar.

Tidak. Baunya amis, ucapku kemudian.

Kau kembali menggeleng dalam diam.

 

Sayang, mengapa?

Mengapa kau tak pernah suka hujan?

Suatu pagi kau menanyakan itu kepadaku.

Di luar gerimis, dan kita berencana pergi setelah reda.

Sayang... jawaban jujur, please... pintamu.

Hmfffhh.............

Aku masih belum menemukan kata yang tepat untuk itu, sayang. Maaf ya?

Jawabanku mengecewakan.

 

Di suatu senja dengan langit yang merekah, kita berjalan menyusuri kota.

Sayang, lihat, langit begitu indah! Gradasi dari kuning-oranye menuju merah-violet! Aku terkagum-kagum.

Kau hanya berdehem, menoleh sebentar, kemudian menunduk.

Memikirkan apa, sayang? Usikku.

Seandainya... kau bisa menyukai hujan seperti kau menyukai langit... kau bergumam.

Oh, sayang... aku menikmati langit karena perpaduan warnanya begitu indah...

Ada warna-warna cantik di sana, bayangkan, di langit! Bodoh kalau aku sampai tak suka.

Sedang hujan?

Bunyi petir?

Cahaya kilat?

Suaranya ketika menampar tanah?

Bahkan suara gerimis yang miris?

Semuanya menakutkan!

Semua identik dengan kesedihan. Kemarahan. Ketergesaan.

Dan itu membuatku ketakutan! Aku benci hujan!!! Teriakku garang.

 

Kau terhenyak.

Sayang, maafkan... aku tak pernah tau kalau kau takut hujan.

Sayang... aku tidak takut pada hujannya... aku takut pada perasaan yang timbul di kala hujan!

Perasaan yang menghantuiku saat aku mendengar petir menyambar marah dan rintihan gerimis menangis...

Aku tak pernah bisa menikmatinya... tak pernah bisa... aku mulai terisak.

Ssshh...... sudah, sayang... aku mengerti. Maafkan aku. Kau memelukku.

 

Dalam hati, di sela-sela isak yang mulai mereda, kubisikkan perlahan alasanku membenci hujan.

Bukankah sudah kukatakan sejak awal, bahwa hujan identik dengan airmata?

Untungnya hujan kali ini bisa segera berketeduhan.

Terimakasih, Tuhan...


Photo AlbumDa Beauty Beneath..Jul 23, '07 2:36 PM
for everyone
she's ma lil'sista!

NoteGuestbook
   
yienda80 wrote on Jan 11, '09
Asslm...
Mampir...:-)
Bandung...kpn y kesana?
imajinerblog wrote on Dec 19, '07
alrite...
ndoenks wrote on Dec 7, '07
tes.. tes..
ok...
imajinerblog wrote on Dec 7, '07
aq..............................
seminar senin inih (10-12-2007)
doakan teman2!!!!
aufklarungofme wrote on Nov 7, '07
tunsss......
dimana dirimuh???
hahaha...
imajinerblog wrote on Aug 12, '07
Selamat Dataaannggg...............................

maaph masi belum jadi active member...sibuk TA cuy, *halah!*
delusio wrote on Jul 7, '07
oi.... ado orang dak.????
ratihretnoningrum wrote on May 24, '07
hu..hu..
sepeltinya akuwh dah ngisi coment deh tuns...
koq ga masup yah???
FYI mac kuwh cahyang lagi sakit...
hu..hu...
tuns...
welcome to perkawanan ala mulitply...
akhirnya para power puff girl punya multiply smuah...
heuheue...
destiutami wrote on May 24, '07
Mana olangnya ini? Mana? Hehe... :D
radenferdy wrote on May 24, '07
tan, aku janji traktir kau kan, IPK masih 4 dak? =)
aufklarungofme wrote on May 22, '07
ntunzzz,,,,,finally angkau bergabung jugaaa,,,,haghaghag
bagaimana ujianmu?sukseskah setelah kutinggal?
huehuehu,,,,